Jonggring Saloko
Jongring Salako adalah nama kawah di Gunung Semeru (Maja Mahameru). Pendaki tidak disarankan untuk pergi ke Kawah Jongring Salako, dan pendakian sisi selatan juga dilarang karena gas beracun dan aliran lahar. Angsa beracun ini dikenal secara lokal sebagai Wedhus Gembel (bahasa Jawa untuk "kambing gimbal", yaitu kambing yang berbulu seperti gimbal). Suhu di puncak Mahameru antara 4 sampai 10 derajat Celcius, minus 0 derajat Celcius pada puncak musim kemarau, dan ditemukan kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Dari Desember hingga Januari, angin sering berbadai.
Wedus Gembel meletus setiap 15 hingga 30 menit di puncak Gunung Semeru yang masih aktif. Pada November 1997, Gunung Semeru meletus sebanyak 2990 kali. Pada siang hari, angin mengarah ke puncak, jadi hindari pergi ke puncak pada siang hari, karena gas beracun dan ledakan mengarah ke puncak.
Wedus Gembel mengikuti arah angin menuju puncak pada siang hari
Ledakan tersebut berupa asap berwarna putih abu-abu kehitaman dengan ketinggian 300-800 meter. Material yang dikeluarkan setiap letusan terdiri dari abu, pasir, kerikil bahkan bebatuan panas yang sangat berbahaya jika pendaki terlalu dekat. Pada awal tahun 1994, lahar panas yang mengalir menuruni lereng selatan Gunung Semeru menewaskan beberapa orang, padahal pemandangan sungai panas yang mengalir ke laut ini sangat menarik.
Aktivis dan mahasiswa seni terkemuka Indonesia di Universitas Indonesia, Saw Hock Gee, meninggal di Gunung Semeru pada tahun 1969 setelah menghirup asap beracun dari Gunung Semeru. Ia meninggal bersama rekannya Idhan Dhanvantari Lubis.
Aktivis dan mahasiswa seni terkemuka Indonesia di Universitas Indonesia, Saw Hock Gee, meninggal di Gunung Semeru pada tahun 1969 setelah menghirup asap beracun dari Gunung Semeru. Ia meninggal bersama rekannya Idhan Dhanvantari Lubis.








0 Response to "Jonggring Saloko"
Posting Komentar